Senin, 22 Juli 2013

Hari Anak Nasional 2013

Mungkin masih kurang populer kalau 23 Juli adalah Hari Anak Nasional. Kalau mau tahu sejarah penetapan hari itu sebagai Hari Anak Nasional, silakan googling. Seabrek tulisan tentang itu.

Hari ini saya mau berbagi soal anak. Ini bukan kapasitas saya sebagai pengamat atau pengkaji anak, apalagi psikolog. Ini cuma ocehan seorang manusia yang sudah nggak pantas disebut anak-anak, tapi juga belum tentu bisa dianggap dewasa. Mau dibilang ABG juga sudah bangkotan.

Bagi saya, anak menyimpan banyak sekali keajaiban yang jarang diduga oleh kita yang mengaku dewasa. Bulan Ramadan ini saya kembali dibuat iri oleh anak-anak di program "Hafidz Indonesia". Saya pikir anak-anak seperti itu jarang ada di Indonesia, tapi seabrek di kawasan Timur Tengah. Ternyata, dugaan jauh meleset. Indonesia pun punya seabrek anak-anak demikian.

Kecintaan pada anak-anak bermula ketika saya harus mengajar anak-anak SD ketika saya masih kuliah dan juga saat berinteraksi dengan mereka untuk tugas mata kuliah pengkajian sastra anak. Saya yang awalnya kurang dekat dengan anak-anak menjadi sangat tertarik pada mereka dengan segala kepolosan dan kejutan-kejutannya. Saking dekatnya dengan mereka, kadang saya sampai di-bully oleh mereka (kebalik ya hehe). Kadang memang kesal menghadapi tingkah mereka, tapi semua terobati saat mereka sudah menunjukkan kelebihannya. Jenius karena memang IQ-nya subhanallah, cerdas di linguistiknya, matematik, visual, spasial, dan lainnya. Ya, sekali lagi mereka mengagumkan buat saya.

Ngomong-ngomong soal kenakalan anak-anak, saya jadi mengerti pernyataan para psikolog bahwa tak ada anak yang nakal, yang ada hanya anak kreatif yang mungkin kurang mendapat bimbingan. Saya sangat setuju dengan hal itu. Empat tahun lebih berinteraksi secara intens hampir setiap hari dengan mereka membuat saya tahu bahwa anak-anak yang dianggap nakal sebenarnya sedang meluapkan kreatifitas mereka. Misal anak yang suka mencoret meja, saat diminta menggambar, hasilnya keren. Atau anak yang suka meledek temannya, saat diajak diskusi sangat asyik dan jangan heran, pengetahuan mereka luas. Mereka meledek dengan pengetahuan mereka. Dan masih banyak contoh lainnya. Jadi, intinya tinggal kita yang mengaku dewasa ini yang membantu mereka memahami dan mengarahkan kreativitasnya agar tak salah arah. (Ini hanya pandangan saya lho ya, bukan memberi nasihat, apalagi menggurui)

Saya juga pernah mendengar sebuah slogan sebuah komunitas yang tujuannya memberi ruang kreasi bagi anak-anak di kawasan Dieng, Jawa Tengah. "Bocah dudu dolanan, bocah kudu dolanan." (Anak bukan mainan, anak harus bermain)

Slogan itu dalam maknanya menurut saya. Tanpa sadar kadang kita memosisikan anak-anak sebagai "mainan" kita (dalam kasus ringan). Ekploitasi anak untuk dunia perdagangan dan hiburan. Coba ingat berapa banyak iklan susu formula yang memamerkan kelucuan anak-anak untuk meningkatkan jumlah pembelian produk. Iklan produk lain yang membawa anak-anak juga masih banyak. Kita (atau saya saja mungkin) memang terhibur. Mereka benar-benar lucu. Tapi apa iya mereka layak dimanfaatkan untuk meraup keuntungan? Hmmm, serba salah sih ya hehe... Film? Sinetron? Ya, masih banyaklah jenis hiburan lain yang mengeksploitasi mereka. Mungkin mereka senang bisa beken, tapi karena tuntutan dari banyak pihak, akhirnya mereka jadi stres dan kehilangan masa kanak-kanaknya karena harus menjadi public figure.

Dalam kasus yang lebih berat, anak menjadi tujuan atau terdampak laku kejahatan. Kekerasan hingga pelecehan seksual kerap dialami mereka. Kadang pelakunya justru orang terdekat mereka yang sudah mereka anggap bisa melindungi mereka. Trauma pun menjadi bayang-bayang mereka.

Guru saya saat mengikuti kuliah sastra anak, Prof. Riris Sarumpaet, mengatakan perasyikan adalah dunia anak-anak. Menyambung ke slogan sebelumnya, anak-anak memang harus bermain. Bermain yang mengembangkan kreativitas dan menghibur mereka tentunya, bukan malah memaksa mereka melakukan yang tak mereka suka. Saya selalu kasihan melihat mereka yang pulang sekolah harus ikut bimbel dan les, dari bahasa Inggris, sempoa, kumon, musik, tari, dan lainnya yang kadang bukan karena hobi mereka tapi karena paksaan dan tuntutan orangtua. Malamnya mereka harus belajar dan mengerjakan tugas dari sekolah atau bimbel dan les. Kapan mereka bermain?

Mainan dan hiburan untuk mereka juga sudah jarang. Mainan serba instan, game online, dan peralatan game elektronik lainnya yang justru membuat anak diam di tempat dan akhirnya banyak kasus obesitas pada anak: asyik main game, duduk diam, tapi ngemil jalan terus :D 

Lagu anak-anak? Jarang ya sekarang... Palingan sekarang lagu anak-anak cuma populer di PAUD, TK, dan komunitas tukang odong-odong. Di luar itu, ya lagu konsumsi mereka adalah lagu orang dewasa. Zaman saya sih masih ada Trio Kwek-Kwek, Joshua, Eno Lerian, Agnes Monica cilik, dll. Kasihan ya anak-anak sekarang. Ada sih penyanyi anak-anak, bahkan ada boy/girlband anak, tapi ya lagunya? You know lah... Ajang pencarian bakat nyanyi buat anak juga ada, tapi ya lihat saja deh. Dari lagu sampai kostumnya, nggak jauh beda dengan ajang serupa untuk orang dewasa, bedanya cuma pesertanya aja, yang ini masih di bawah umur.

Eh, kok jadi panjang begini ya. Sebenarnya masih banyak yang ingin saya curhatkan sih, tapi sudahlah, lain waktu saja. Selamat beraktivitas. Selamat Hari Anak Nasional...

Pangkalpinang, 23 Juli 2013 07.46
Prima (pecinta anak-anak dan nggak sabar ingin punya anak hha)
*ditulis mendadak tanpa editing, jadi maaf ya banyak yang nggak jelas

Kamis, 24 Januari 2013

Kembalikan Fungsi Klakson Sesuai Fitrahnya





Seperti biasanya, pagi kemarin saya gegowesan (baca: bersepeda) keliling kota. Saya keluar gang indekos dan akhirnya sampailah ke jalan agak besar dan terus mengayuh sepeda hingga ke jalan raya empat lajur (lebarnya kurang lebih 22 meter). Saya tinggal di Pangkalpinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Tak seperti di Jakarta, di sini jalan raya pada pagi hari sebelum pukul enam masih sangat sepi, hanya satu dua kendaraan yang lewat, apalagi jalan yang saya lewati ini: Jalan Mentok.

Sedang asyik-asyiknya gowes di jalanan lengang dan suasana yang sepi, mendadak ada bunyi klakson di belakang saya. Ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan sedang hendak melewati saya. Karena sedang sepi, saya kaget mendengar suara klakson tersebut. Oke, saya paham salah satu fungsi klakson adalah fungsi eksistensi, yakni menunjukkan keberadaan seseorang/sesemobil/sesemotor/atau sese-lainnya. Tapi yang saya heran dari peristiwa tersebut adalah kondisi jalanan yang sangat sepi. Hanya ada mobil tersebut dan saya yang mengendarai sepeda. Lagi pula posisi saya sangat di pinggir jalan, tidak ada satu meter jaraknya dengan trotoar. Dengan demikian, masih tersisa kurang lebih 10 meter untuk lajur kiri dan 11 meter untuk lajur kanan. Saya kira ruang selebar itu masih sangat cukup untuk mobil Avanza yang lebarnya tak lebih dari tiga meter. Jalanan di sana juga lurus tanpa ada belokan. Jadi, masihkah klakson itu berfungsi sebagai tanda eksistensi? Saya kira tidak. Klakson yang sebelumnya berarti “Ada gue di belakang lo. Jangan belok kanan dulu ya. Gue mau lewat,” saat itu berubah menjadi “WOEI...! MINGGIR LO...!!! GUWEEH MAU LEWAT...!!!”

Atau kejadian lain pada suatu siang terik di perempatan. Kejadian ini pasti sering dialami oleh para pengendara, atau mungkin Anda salah satu pelakunya. Beberapa detik lagi lampu merah akan berubah jadi hijau. Ketika angka merah menunjukkan angka 0, beberapa pengendara di antrean belakang (yang sedang kebelet pup mungkin) langsung membunyikan klakson BERKALI-KALI. Pengendara motor di samping saya juga melakukan demikian. Saya yang jengah dengan hal itu pun nyletuk dengan cukup keras, “Sabar kalee, Pak...!” Hasilnya, saya diplototin orang.

Entah logikanya yang tidak jalan atau otaknya yang memang setara dengan otak ganggang, mereka terus membunyikan klakson. Padahal jika diperhatikan atau jika kita mau memosisikan diri seolah sedang ada di antrean depan, kita akan paham bahwa butuh sepersekian detik untuk menjalankan kendaraan kita ketika lampu berubah menjadi hijau. Sepersekian detik tersebut tinggal dikalikan dengan banyaknya saf/baris antrean. Jadi,  kita yang ada di antrean belakang tidak bisa langsung berjalan seketika itu juga saat lampu berubah menjadi hijau. Butuh sekian detik agar antrean belakang bisa berjalan.  

So, mulai sekarang kurangilah membunyikan klakson untuk hal seperti itu. Sadar dirilah, walaupun bukan ahli matematika atau profesor fisika, kita masih bisa memperkirakan hal demikian. Dalam kondisi demikian, klakson layak dibunyikan ketika kendaraan di depan kita sudah lama tidak berjalan padahal di depannya sudah tidak ada antrean dan lampu sudah hijau. Jika belum pada kondisi demikian, ya bersabarlah. Sabar sekian detik tidak akan membuat pup kita keluar di jalan, kan?

Fungsi klakson selain sebagai bukti eksistensi adalah memberikan perintah kepada yang lain untuk menyingkir karena kita mau mendahuluinya dan keberadaannya menghalangi jalan kita sehingga sebaiknya ia sedikit menyingkir. Fungsi lainnya mungkin untuk bukti kekerabatan. Pasti pernah kan ada seseorang yang kita kenal mengklakson saat melewati kita? Ya, itu dimaksudkan untuk “menyapa” kita. Daripada berteriak dan dikhawatirkan malah tidak terdengar, ya lebih baik mengklakson. Tinggal berharap saja, orang yang diklakson sadar bahwa itu orang yang dikenalnya yang ingin menyapanya.

Mau buka pintu garasi atau pintu gerbang dan ada orang di rumah yang bisa membukakannya? Ya tinggal klakson saja daripada kita turun dari mobil hehe. Tapi biar sekalian olahraga ya keluar dan berjalanlah sendiri membuka pintu garasi atau gerbang rumah kita.

Ada juga sih fungsi lainnya menurut pengamatan saya. Fungsi luapan kemarahan. Ya, sering lihatlah atau mungkin kita pernah melakukannya. Ketika kita marah karena ada pengguna jalan yang hampir membuat kita celaka, kita membunyikan klakson untuk meluapkan kemarahan kita. Tapi semoga kita tidak mengalami hal demikian.

Tentunya masih ada fungsi klakson yang lainnya yang tidak perlu saya bicarakan di sini. Sekali lagi, bijaklah menggunakan klakson. Kita kesal ‘kan jika ada orang yang mengklakson kita padahal posisi kita sudah benar? Ya jangan suka klakson sembarangan juga ya hehe... Yuk, kembalikan fungsi klakson sesuai fitrahnya.

The Magic Finger (Jari Ajaib) Roadl Dahl


Buku selanjutnya yang saya baca untuk mengenang masa kanak saya bersama Roadl Dahl adalah The Magic Finger (Jari Ajaib). Di sini tokoh utamanya adalah si Aku, jadi sinopsis yang saya tulis juga tetap mempertahankan ke-aku-an. Buku edisi Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama ini memiliki banyak ilustrasi di setiap halamannya, tetapi semuanya hitam putih, tidak berwarna seperti buku Buaya Raksasa.

Tanah pertanian kami bersebelahan dengan milik keluarga Gregg. Mereka mempunyai dua anak laki-laki: Philip (8 tahun) dan William (11 tahun). Aku berumur 8 tahun.  Pak Gregg dan kedua anaknya suka berburu. Aku tidak suka dan sering mencegah mereka untuk berburu. Bukannya mendengarkanku, mereka malah menertawakanku. Pulang berburu mereka membawa seekor rusa. Aku sangat marah dan tak dapat mencegah jari telunjukku teracung ke arah mereka.

Jariku adalah Jari Ajaib. Dulu Aku pernah dibilang bodoh oleh guruku, Bu Winter, sehingga aku marah dan tak dapat mengendalikan Jari Ajaibku. Jadilah Bu Winter memiliki kumis dan ekor besar berbulu seperti kucing. Hingga sekarang Bu Winter tidak kembali seperti semula.

Setelah mendapat rusa, sore harinya Pak Gregg dan kedua anaknya kembali berburu. Mereka mendapatkan 16 ekor itik. Sehabis gelap, mereka pulang. Ketika itu, ada empat itik (dua induk dan dua anak) mengikuti mereka. Malam harinya ketika Pak Gregg keluar rumah untuk mengambil kayu bakar perapian, ia melihat empat ekor itik tersebut terbang mengitari rumahnya. Ia pun segera masuk ke dalam rumah.

Pagi harinya mereka mendapati tubuhnya mengecil. Tangan mereka juga hilang dan tergantikan oleh sepasang sayap itik. Mereka pun mencoba terbang keluar rumah. Ketika kembali ke rumah, mereka mendapati bahwa rumahnya telah dikuasai oleh empat itik tadi yang telah berubah menjadi seukuran manusia dan sayapnya berubah menjadi tangan. Keluarga Gregg pun akhirnya bergotong royong membuat sarang di pohon. Malam harinya hujan turun sangat lebat disertai dengan angin kencang. Mereka basah kuyup.

Akhirnya pagi pun menjelang. Ketika menengok ke bawah mereka melihat ketiga itik raksasa didampingi seekor itik membawa senapan dan mengarahkannya ke sarang keluarga Gregg, hendak menembaki mereka. Pak Gregg memohon kepada para itik raksasa untuk tidak menembak dia dan keluarganya. Para itik pun tidak jadi menembak mereka setelah keluarga Gregg berjanji tidak akan menembaki itik dan hewan-hewan lainnya serta akan menghancurkan ketiga senapannya.

Mendadak suasana menjadi gelap dan setelah kembali normal keluarga Gregg juga kembali seperti sediakala, kembali ke ukuran semula, memiliki tangan, tanpa sayap. Para itik juga telah terbang dengan ukuran dan bentuk tubuh seperti semula.

Pak Gregg segera menghancurkan ketiga senapannya. Bu Gregg mengubur 16 itik dan membuat pusara di atas makam mereka. Philip dan William sedang memberi makan unggas liar dengan sekarung jewawut milik ayah mereka. Tiba-tiba kami mendengar suara senapan di danau. Suara itu berasal dari ulah keluarga Cooper yang sedang berburu, Aku kembali mengacungkan jari.

"The Enrous Crocodile" (Buaya Raksasa) Roald Dahl

Tiba-tiba saya rindu dengan cerita-cerita Roald Dahl ketika saya melihat jejeran buku karyanya di toko buku. Untuk mengobati rindu itu, saya pun mengambil beberapa buku di rak dan segera membayarnya. Ternyata memang mengasyikkan kembali menyelami masa-masa kecil. Versi asli buku ini diterbitkan oleh Quentin Blake pada 1978. Di Indonesia buku ini pertama kali diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada Mei 2006 dan terbit kembali pada Januari 2010.
Buku setebal 64 halaman dengan dicetak seluruhnya pada kertas art paper atau coated paper. Sebagian besar halamannya juga didominasi oleh gambar berwarna sehingga menarik dibaca oleh anak-anak. Selain itu, banyak pula nasihat yang terkandung di dalamnya. Buaya yang rakus, sombong, dan mengaku dirinya paling cerdik akhirnya dapat dikalahkan oleh binatang-binatang lainnya. Seperti pepatah "Tong kosong nyaring bunyinya". Begitulah buaya yang suka membual. Ia hanya melebih-lebihkan dirinya padahal sebenarnya dia tidak sepintar yang ia katakan.
Di sungai terbesar di Afrika hidup seekor buaya raksas dan buaya yg tak terlalu besar. Siang itu, buaya raksasa ingin menyantap seorang anak kecil. Ia berkata memiliki rencana rahasia dan taktik yang cerdik. Buaya Kecil tidak suka dengan kelakuan Buaya Raksasa.
Buaya Raksasa berjalan keluar sungai. Ia bertemu dengan Humpy Rumpy, kuda nil. Humpy-Rumpy juga tak suka dengan rencana Buaya Raksasa. Buaya Raksasa melanjutkan perjalanan. Ia bertemu dengan gajah Trunky dan menggigit kakinya untuk mengagetkannya. Gajah tidak suka juga dengan rencana buaya. Buaya kembali berjalan dan bertemu dengan kera Muggle-Wump. Kera juga tidak suka dengan rencananya. Buaya malah mengganggunya dengan merobohkan pohon yang sedang dipanjat si kera. Buaya berniat memakan kera tapi kera berhasil melarikan diri. Buaya melanjutkan perjalanan dan bertemu burung Roly-Poly. Buaya mencoba menerkam burung itu, tapi yang didapatnya hanyalah berhelai-helai ekor burung yang indah itu.
Akhirnya, Buaya Raksasa itu tiba di seberang hutan yang ditumbuhi banyak pohon kelapa. Berjalan melewati hutan membuatnya lapar. Ia ingin menyantap tiga anak. Di sana sering ada anak-anak mencarin buah kelapa yang jatuh. Buaya segera mengumpulkan buah kelapa dan daun kelapa yang jatuh. Ia segera mengatur buah dan daun agar mirip dengan sebatang pohon kelapa kecil. Dua anak kecil datang dan hendak memanjat pohon kelapa kecil itu. Kuda nil yang tahu sebenarnya segera menyuruh anak itu menyingkir dan menubruk pohon kelapa kecil itu yang sebenarnya adalah si Buaya Raksasa.
Buaya berjalan menuju taman bermain anak-anak. Ia berbaring melintang di atas sebatang kayu sehingga seperti papn jungkat-jungkit. Ketika sekolah bubar, anak-anak berhamburan ke taman bermain. Kera datang dan memperingatkan anak-anak bahwa itu sebenarnya adalah buaya. Mereka pun segera lari berhamburan. Ia marah kepada kera dan sangat lapar. Ia ingin menyantap empat anak agar kenyang.
Buaya segera melaksanakan rencana ketiga. Ia pergi ke pasar malam dan duduk di komidi putar seolah seperti patung-patung tempat duduk di komidi putar. Anak-anak segera menghampirinya. Burung Roly-Poly yang melihat itu segera memperingatkannya. Semua pengunjung berhamburan menyelamatkan diri. Buaya berlari ke semak untuk bersembunyi. Ia sangat lapar sehingga ingin memakan enam anak agar kenyang.
Buaya menuju tempat piknik. Di sana banyak meja dan bangku untuk istirahat pengunjung. Buaya mencari bunga-bunga dan meletakkannya di sebuah meja. Ia menyembunyikan sebuah bangku dan menggantikan bangku itu dengan dirinya dengan cara membuat dirinya seolah-olah seperti bangku. Datanglah empat anak menghampiri bangku tersebut. Tiba-tiba datanglah Trunky si gajah memperingatkan mereka. Dengan belalainya gajah itu memegang ekor buaya dan memutarnya. Semakin lama semakin cepat hingga terlihat seperti lingkaran buram. Trunky melepaskan ekor buaya dan melesatlah sang buaya ke angkasa hingga akhirnya meledak karena menubruk matahari.

Selasa, 15 Januari 2013

A Fantasy Reading Challenge


Pada akhir tahun 2012, saya mendapat kabar dari seorang teman saya (@sansadhia) mengenai A Fantasy Reading Challenge ini. Setelah dipikir-pikir, tak ada salahnya juga saya mencoba mengikutinya. Ketika saya bongkar rak buku di kamar kos, ternyata memang masih cukup banyak juga buku fantasi yang sudah saya beli tapi belum dibaca dan kebanyakan adalah novel fantasi berseri. Inilah buku-buku yang akan saya baca dalam setahun ini.
  1. The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel #1: The Alchemist (Michael Scott)
  2. The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel #2: The Magican (Michael Scott)
  3. The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel #3: The Sorceress (Michael Scott)
  4. The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel #4: The Necromancer (Michael Scott)
  5. The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel #5: The Warlock (Michael Scott)
  6. The Kane Chronicles #1: The Red Pyramid (Rick Riordan)
  7. The Kane Chronicles #2: The Throne of Fire(Rick Riordan)
  8. The Heroes of Olympus #1: The Lost Hero (Rick Riordan)
  9. The Heroes of Olympus #2: The Son of Neptune (Rick Riordan)
  10. The 13th Reality #1: The Journal of Curious Letters (James Dashner)
  11. The 13th Reality #2: The Hunt for Dark Infinity (James Dashner)
  12. Harry Potter #7: Harry Potter dan Relikui Kematian (J.K. Rowling)

Additional Challenge

Jumat, 17 Desember 2010

Beringin Kembar di Alun-Alun Kidul, Keraton Yogyakarta




Yeah...yuk jalan-jalan sambil nyentil yang mistis-mistis

Mungkin di antara kita ada yang pernah mendengar mitos beringin kembar (penduduk menyebutnya Wringin Kurung) yang ada di tengah-tengah Alun-Alun Kidul Keraton Yogyakarta. Atau bahkan mungkin ada pula yang pernah mencobanya. Bagaimana? Berapa kali kalian mencobanya? Berhasilkah? Ya…konon, orang yang berjalan dari ujung alun-alun hingga dapat melewati celah (selebar kira-kira 10 meter) di antara kedua pohon beringin tersebut dengan menutup matanya adalah orang-orang yang memiliki hati yang tulus dan bersih serta segala harapannya akan terwujud.

Jika dilihat, berjalan lurus (dari depan pendopo utara hingga tengah alun-alun kurang lebih 25 meter) dengan mata tertutup untuk melewati celah di antara dua beringin tersebut memang terlihat mudah. Namun, tidak semua orang dapat melewatinya. Beberapa teman yang pernah mencobanya merasa sedang berjalan berbelok ke kiri, tetapi pada kenyataannya mereka berbelok ke kanan, atau sebaliknya. Ada juga yang merasa berjalan lurus, tetapi nyatanya mereka berbelok semakin menjauh dari pohon beringin. Banyak kejadian lucu saat kita berada di sana. Kita dapat melihat kejadian yang saya sebutkan tadi, ada juga yang hanya berputar-putar saja mengelilingi pohon beringin (kalau yang ini, temannya iseng, nggak nyuruh menyudahi aksi ngocol dan mengibakan kayak gini).

Banyak sekali (eh, nggak juga sih) cerita di balik kejadian ini yang dihubungkan dengan kejadian mistik. Ada yang mengatakan, di depan Wringin Kurung tersebut ada barisan makhluk halus yang bergandengan tangan dengan erat dan membentuk barisan yang membelok ke kanan (menurut teman, memang banyak wisatawan yang akhirnya berjalan berbelok ke kanan, rasanya sedang berjalan lurus padahal sedang berjalan berbelok ke kanan).

Lalu bagaimana sebenarnya mitos itu bisa terbentuk? Menurut warga Yogja (lebih tepatnya seorang teman yang kuliah dan ngekos di Yogja), ceritanya seperti ini.

Kejadian ini terjadi ketika Sultan Hamengkubuwono I berkuasa (1755—1792). Saat itu putri Sultan akan dipinang seorang pangeran. Akan tetapi, sang putri tidak mencintainya. Sang putri pun membuat akal-akalan agar pangeran itu takjadi menikahinya. Sang putri memberi syarat bahwa yang dapat menikahinya adalah orang yang dapat berjalan dengan mata tertutup dari pendopo utara Alun-Alun Kidul melewati celah antara dua beringin kembar di tengah alun-alun hingga selesai di pendopo selatan. Setelah dicoba, ternyata pangeran tak berhasil.

Akhirnya, Sultan bersabda “Orang yang dapat melewati celah beringin kembar tersebut hanyalah orang yang hatinya benar-benar bersih dan tulus.” Pada akhirnya, sang putri pun dipinang oleh pemuda dari Siliwangi yang berhasil melaksanakan syarat tersebut. Secara politik (kata temen anak jurusan Sejarah), memang diketahui muncul kekerabatan yang erat antara Mataram dengan Kerajaan Siliwangi.

Begitulah cerita yang saya dengar dari seorang teman dan beberapa sumber lain. Sampai saat ini, banyak wisatawan yang mencoba melewati beringin kembar tersebut. Jika berkunjung ke Alun-Alun Kidul pada malam hari, kalian akan melihat banyak orang yang melakukan hal tersebut. Otak bisnis orang Jogja pun berjalan. Selain, tentu saja, banyak pedagang makanan angkringan, ada pula pedagang yang menyewakan penutup mata, dua ribu untuk seorang.


Jadi, siapa yang pernah mencobanya?

Sayaaa…!!! Ya, saya pernah mencobanya. Pertama kali saat saya sedang SPMB tahun 2006 di Jogja (sempet ya paginya mau SPMB, malemnya malah maen-maen sampe tengah malem…hha… *emang ni otak isinya maen mulu). Saat itu, bersama tiga orang teman, saya mencoba hingga tiga kali, dua kali di antaranya saya berhasil melewati celah beringin kembar tersebut. Teman saya tak ada yang berhasil, bahkan mereka malah menuduh saya ngintip…zzz… Padahal, saya sama sekali tak ngintip, beneran dah...!

Kedua kalinya (saat Sekaten 2010) saya bersama tiga teman saya liburan ke Jogja. Sekembalinya dari Kotagede melihat industri kerajinan perak, selepas asar kami sudah berada di Alun-Alun Kidul, menyewa sepeda-gandeng-tiga hingga maghrib. Suasana di sana sudah ramai. Banyak pedagang angkringan. Sisi timur sedang alun-alun digunakan bermain bola, sedangkan sisi barat digunakan sebagai lahan penyewaan sepeda. Selepas salat maghrib, kami mencoba melewati pohon beringin itu. Saat itu, saya mencoba (kalau taksalah) tiga kali, tapi yang jelas saya berhasil melewati celah itu. Menurut teman saya, awalnya saya berbelok ke kanan cukup jauh, tapi saya kembali berbelok ke kiri dan akhirnya masuklah saya ke celah beringin itu. hhe… “berhasil, berhasil, berhasil…” #gayaDoraTheExplorer a.k.a @Anita Rima Dewi

Saya bukanlah orang yang percaya terhadap mitos-mitos seperti itu. Menurut saya, hal itu hanyalah kebetulan, tak ada hubungannya dengan mistik, karena tak mungkin kita dapat mengukur ketulusan hati seseorang hanya dengan melewati pohon yang dikeramatkan tersebut. Menurut saya, ketulusan hati bukan diukur dalam beberapa saat seperti itu, melainkan diukur berdasarkan niat kita melakukan sesuatu. #agak.sotoy.nih …hha…

Akan tetapi, buat saya, ada hikmahnya juga kejadian itu. Saya jadi berusaha mewujudkan apa yang disimpulkan orang dari kejadian itu: berusaha memiliki ketulusan hati yang sesungguhnya. Meskipun saya tahu hal itu sangat sangat sangat sulit, sedikit-sedikit saya akan mencobanya: menjadi manusia yang lebih baik. Amien…

-->
Mungkin di antara kita ada yang pernah mendengar mitos beringin kembar (penduduk menyebutnya Wringin Kurung) yang ada di tengah-tengah Alun-Alun Kidul Keraton Yogyakarta. Atau bahkan mungkin ada pula yang pernah mencobanya. Bagaimana? Berapa kali kalian mencobanya? Berhasilkah? Ya…konon, orang yang berjalan dari ujung alun-alun hingga dapat melewati celah (selebar kira-kira 12 meter) di antara kedua pohon beringin tersebut dengan menutup matanya adalah orang-orang yang memiliki hati yang tulus dan bersih serta segala harapannya akan terwujud.
Jika dilihat, berjalan lurus (dari depan pendopo utara hingga tengah alun-alun kurang lebih 20 meter) dengan mata tertutup untuk melewati celah di antara dua beringin tersebut memang terlihat mudah. Namun, tidak semua orang dapat melewatinya. Beberapa teman yang pernah mencobanya merasa sedang berjalan berbelok ke kiri, tetapi pada kenyataannya mereka berbelok ke kanan, atau sebaliknya. Ada juga yang merasa berjalan lurus, tetapi nyatanya mereka berbelok semakin menjauh dari pohon beringin. Banyak kejadian lucu saat kita berada di sana. Kita dapat melihat kejadian yang saya sebutkan tadi, ada juga yang hanya berputar-putar saja mengelilingi pohon beringin (kalau yang ini, temannya iseng, nggak nyuruh menyudahi aksi ngocol ini).
Banyak sekali (nggak juga sih) cerita di balik kejadian ini yang dihubungkan dengan kejadian mistis. Ada mengatakan, di depan Wringin Kurung tersebut ada barisan makhluk halus yang bergandengan tangan dengan erat dan membentuk barisan yang membelok ke kanan (menurut teman, memang banyak wisatawan yang akhirnya berjalan berbelok ke kanan, rasanya sedang berjalan lurus padahal sedang berjalan berbelok ke kanan).

Lalu bagaimana sebenarnya mitos itu bisa terbentuk? Menurut warga Yogja (lebih tepatnya seorang teman yang kuliah dan ngekos di Yogja), ceritanya seperti ini.
Kejadian ini terjadi ketika Sultan Hamengkubuwono I berkuasa (1755—1792). Saat itu putri Sultan akan dipinang seorang pangeran. Akan tetapi, sang putri tidak mencintainya. Sang putri pun membuat akal-akalan agar pangeran itu tak jadi menikahinya. Sang putri memberi syarat bahwa yang dapat menikahinya adalah orang yang dapat berjalan dengan mata tertutup dari pendopo utara Alun-Alun Kidul melewati celah antara dua beringin kembar di tengah alun-alun hingga selesai di pendopo selatan. Setelah dicoba, ternyata pangeran tak berhasil.
Akhirnya, Sultan bersabda “Orang yang dapat melewati celah beringin kembar tersebut hanyalah orang yang hatinya benar-benar bersih dan tulus.” Pada akhirnya, sang putri pun dipinang oleh pemuda dari Siliwangi yang berhasil melaksanakan syarat tersebut. Secara politik (kata anak jurusan Sejarah), memang diketahui muncul kekerabatan yang erat antara Mataram dengan Kerajaan Siliwangi.

Begitulah cerita yang saya dengar dari seorang teman dan beberapa sumber lain. Sampai saat ini, banyak wisatawan yang mencoba melewati beringin kembar tersebut. Jika berkunjung ke Alun-Alun Kidul pada malam hari, kalian akan melihat banyak orang yang melakukan hal tersebut. Otak bisnis orang Jogja pun berjalan. Selain, tentu saja, banyak pedagang makanan angkringan, ada pula pedagang yang menyewakan penutup mata, dua ribu untuk seorang.

Jadi, siapa yang pernah mencobanya?
Sayaaa…!!! Saya pernah mencobanya. Pertama kali saat saya sedang SPMB tahun 2006 di Jogja (sempet ya paginya mau SPMB, malemnya malah maen-maen sampe tengah malem…hha…). Saat itu, bersama tiga orang teman, saya mencoba hingga tiga kali, dua kali di antaranya saya berhasil melewati celah beringin kembar tersebut. Teman saya tak ada yang berhasil, bahkan mereka malah menuduh saya ngintip…zzz… Padahal, saya sama sekali tak ngintip.
Kedua kalinya (saat Sekaten 2010) saya bersama tiga teman saya liburan ke Jogja. Sekembalinya dari Kotagede melihat industri kerajinan perak, selepas asar kami sudah berada di Alun-Alun Kidul, menyewa sepeda-gandeng-tiga hingga maghrib. Suasana di sana sudah ramai. Banyak pedagang angkringan. Sisi timur sedang alun-alun digunakan bermain bola, sedangkan sisi barat digunakan sebagai lahan penyewaan sepeda. Selepas salat maghrib, kami mencoba melewati pohon beringin itu. Saat itu, saya mencoba (kalau tak salah) tiga kali, tapi yang jelas saya berhasil melewati celah itu. Menurut teman saya, awalnya saya berbelok ke kanan cukup jauh, tapi saya kembali berbelok ke kiri dan akhirnya masuklah saya ke celah beringin itu. hhe… “berhasil, berhasil, berhasil…” #gayaDoraTheExplorer
Saya bukanlah orang yang percaya terhadap mitos-mitos seperti itu. Menurut saya, hal itu hanyalah kebetulan, tak ada hubungannya dengan mistik, karena tak mungkin kita dapat mengukur ketulusan hati seseorang hanya dengan melewati pohon yang dikeramatkan tersebut. Menurut saya, ketulusan hati bukan diukur dalam beberapa saat seperti itu, melainkan diukur berdasarkan niat kita melakukan sesuatu. #agak.sotoy.nih …hha…
Akan tetapi, buat saya, ada hikmahnya juga kejadian itu. Saya jadi berusaha mewujudkan apa yang disimpulkan orang dari kejadian itu: berusaha memiliki ketulusan hati yang sesungguhnya. Meskipun saya tahu hal itu sangat sangat sangat sulit, sedikit-sedikit saya akan mencobanya: menjadi manusia yang lebih baik. Amien…

Jumat, 30 Oktober 2009

Sejarah Perkamusan Indonesia

I. Pendahuluan

Bahasa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari bahasa Melayu. Dari sudut intern lingusitik, bahasa Indonesia merupakan salah satu varian historis, varian sosial, maupun varian regional dari bahasa Melayu. Dikatakan sebagai varian historis karena bahasa Indonesia merupakan kelanjutan dari bahasa Melayu, bukan dari bahasa lain di Asia Tenggara ini. Dikatakan varian sosial kerena bahasa Indonesia digunakan oleh sekelompok masyarakat yang menamakan diri bangsa Indonesia, yang tidak sama dengan bangsa Malaysia atau bangsa Brunei yang menggunakan varian bahasa Melayu lain. Dikatakan varian regional karena bahasa Indonesia digunakan di wilayah yang sekarang disebut Republik Indonesia (Kridalaksana, 1991: 1).

Secara tepat pernyataan tersebut diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam Konggres Bahasa Indonesia I di Solo pada tahun 1938.

Jang dinamakan ’bahasa Indonesia’ jaitoe bahasa Melajoe jang soenggoehpoen pokoknja berasal dari ”Melajoe Riau’. Akan tetapi jang soedah ditambah dioebah atau dikoerangi menoeroet keperloean zaman dan alam baharoe hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat di seloeroeh Indonesia; pembaharoean Bahasa Melajoe hingga mendjadi bahasa Indonesia itoe haroes dilakoekan oleh kaoem ahli jang beralam baharoe, ialah alam kebangsaan Indonesia.


Akan tetapi, sebelumnya telah dicetuskan nama bahasa Indonesia yaitu pada saat perumusan Sumpah Pemuda. Pada tanggal 2 Mei tahun 1926 diadakan rapat perumus hasil Kongres Sumpah Pemuda Pertama yang terdiri dari Mohammad Tabrani (ketua), Muhammad Yamin, Djamaludin, dan Sanusi Pane. Panitia tersebut menunjuk Muhammad Yamin untuk merumuskan Sumpah Pemuda. Hasil rumusannya adalah ”Kami poetra-poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, Tanah Air Indonesia; Kami poetra-poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, Bangsa Indonesia; Kami poetra-poetri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Melajoe.” Rumusan tersebut ditentang oleh ketua panitia dan akhirnya diganti menjadi ”[...] Kami poetra-poetri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Oleh karena itu tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Kelahiran Bahasa Indonesia.

Bahasa Melayu merupakan bahasa yang menjadi dasar bahasa nasional di Indonesia dan Malaysia. Bahasa Melayu berkembang melalui dua jalur, yaitu (1) bahasa Melayu lisan yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari di kalangan priyayi, dan masyarakat luas, termasuk Cina peranakan yang bagi golongan masyarakat ini lazim disebut bahasa Melayu pasar, dan (2) bahasa Melayu yang dipakai dalam dunia persekolahan yang secara taat asas memakai model bahasa Melayu tinggi.

Sejarah bahasa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari studi linguistik di Indonesia. Di Indonesia, studi linguistik mulai mendapat perhatian pada tahun 1960-an yang ditandai dengan kegiatan yang intensif terhadap studi deskriptif dan studi teoretis. Akan tetapi, pada masa itu studi historis kurang mendapat perhatian. Karya-karya linguistik sebagaian besar adalah karya deskriptif, seperti tata bahasa, semantik, sosiolinguistik, dialektologi, dan sebagainya.

Sejarah kajian bahasa Indonesia berusaha memahami perkembangan konsep tentang bahasa atau konsep tentang aspek-aspek linguistik sebagaimana dipaparkan dalam karya-karya para peneliti linguistik. Sejarah kajian bahasa membantu memahami apakah karya seseorang itu sesuatu yang baru sama sekali atau penerusan saja dari tradisi yang pernah ada. Peneliti berusaha merekonstruksi masa lampau ilmu bahasa, yaitu tentang apa saja yang telah diungkapkan orang tentang bahasa atau tentang sektor-sektor bahasa tertentu. Sejarah kajian dibagi ke dalam 8 subkajian, yaitu sejarah tata bahasa, sejarah perkamusan, sejarah pembinaan bahasa, sejarah pengajaran bahasa Indonesia, sejarah pengaruh tradisi kajian bahasa lain dalam bahasa Indonesia, bibliografi, biografi tokoh-tokoh bahasa Indonesia, dan tinjauan kritis tentang penyelidikan bahasa Indonesia dan sejarah bahasa Indonesia.

Dalam makalah ini, saya akan mencoba menjelaskan sejarah perkamusan di Indonesia. Penjelasan ini diawali dengan penjelasan perkamusan di dunia dan dilanjutkan dengan uraian mengenai bagaimana latar belakang perkamusan Indonesia, awal mula kamus bahasa Indonesia dan perkembangannya hingga seperti sekarang ini.


II. Kamus dan Perkamusan

Kamus merupakan buku atau sumber acuan yang memuat kata atau ungkapan yang biasanya disusun secara alfabetis dengan keterangan tentang makna, pemakaian, atau terjemahannya. Idealnya, sebuah kamus memuat perbendaharaan kata yang tidak terbatas jumlahnya. Kamus memiliki fungsi dan manfaat praktis bagi berbagai kalangan. Kamus berfungsi sebagai alat dokumentasi bahasa, yaitu tidak hanya memuat keterangan bila sebuah lema masuk ke dalam suatu bahasa, tetapi juga menggambarkan makna lema yang ada secara tuntas termasuk perkembangannya.

Kata kamus berasal dari kata dalam bahasa Arab qamus. Kata Arab itu sendiri berasal dari kata dalam bahasa Yunani okeanos yang bererti ’lautan’. Sejarah kata tersebut memperlihatkan makna dasar yang terkandung dalam kata kamus, yaitu wadah pengetahuan, khususnya pengetahuan bahasa, yang tidak terhingga dalam dan luasnya, seluas dan sedalam lautan. Dalam bahasa Inggris, kata yang mewakili konsep makna ’kamus’ adalah dictionary yang berasal dari bahasa Latin, yaitu dictionarium. Definisi kamus juga dijelaskan oleh beberapa ahli, yaitu di antaranya:

a. Harimurti Kridalaksana
Kamus adalah buku referensi yang memuat daftar kata atau gabungan kata dengan keterangan mengenai pelbagai segi maknanya dan penggunaannya dalam bahasa; biasanya disusun menurut abjad (dalam tradisi Yunani—Romawi menurut abjad Yunani—Romawi), kemudian menurut abjad bahasa bersangkutan; dalam tradisi Arab menurut urutan jumlah konsonan.

b. Gorys Keraf
Kamus merupakan sebuah buku referensi yang memuat daftar kata-kata yang terdapat dalam sebuah bahasa, disusun secara alfabetis disertai keterangan cara menggunakan kata itu.

c. John W.M. Verhaar
Perkamusan adalah karya pengkhazanahan kata-kata dalam bentuk buku yang sedemikian rupa sehingga setiap kata dapat dicari dalam urutan alfabetis. Perkamusan termasuk bidang linguistik dan juga bidang sastra karena pentingnya berkas yang tetap dari perbendaharaan kata di dalam setiap bahasa. Lazimnya dalam kamus memuat juga kata-kata yang masih dikenal orang sedikitnya secara reseptif dan yang dipakai secara produktif. Dengan demikian kamus yang baik adalah menyumbangkan banyak pada penambahan diakronik pada leksikon sinkronik.

Fungsi utama kamus adalah sebagai media penghimpun konsep-konsep budaya. Selain itu, kamus juga berfungsi praktis, seperti sarana mengetahui makna kata, sarana mengetahui lafal dan ejaan sebuah kata, sarana untuk mengetahui asal-usul kata, dan sarana untuk mengetahui berbagai informasi mengenai kata lainnya.

Kamus bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari dan berkaitan dengan urusan pekerjaan, belajar untuk menjadi seorang yang berprestasi, hidup bertetangga sehingga masyarakat dan bangsa Indonesia memiliki citra bahasa yang kuat (Dumaria, 2009: 1).

Berdasarkan bahasa sasarannya, kamus dapat dibedakan menjadi kamus ekabahasa (monolingual), kamus dwibahasa (bilingual), dan kamus aneka bahasa (multilingual). Kamus ekabahasa merupakan kamus yang bahasa sumbernya (lema/entri) sama dengan bahasa sasarannya (glos). Kamus dwibahasa merupakan kamus yang bahasa sumbernya (lema/entri) tidak sama dengan bahasa sasarannya (glos). Kamus aneka bahasa merupakan kamus yang kata-kata bahasa sumber dijelaskan dengan padanannya dalam tiga bahasa atau lebih.

Berdasarkan ukurannya, kamus dapat dibedakan menjadi kamus besar dan kamus terbatas (kamus saku dan kamus pelajar). Kamus besar adalah kamus yang memuat semua kosakata, termasuk gabungan kata, idiom, ungkapan, peribahasa, akronim, singkatan, dan semua bentuk gramatika dari bahasa tersebut, baik yang masih digunakan maupun yang sudah arkais. Sementara itu, kamus terbatas adalah kamus yang jumlah katanya dibatasi, begitu juga dengan makna dan keterangan-keterangan lain dibatasi. Kamus terbatas digolongkan menjadi kamus saku dan kamus pelajar.

Berdasarkan isinya, kamus dibedakan menjadi kamus lafal (berisi penjelasan pelafalan tiap lema), kamus ejaan (berisi lema yang sesuai dengan ejaan), kamus sinonim (penjelasan makna berupa sinonim), kamus antonim (penjelasan makna berupa antonim), kamus homonim (mendaftarkan bentuk yang berhomonim dan penjelasannya), kamus ungkapan/idiom (memuat satuan bahasa berupa ungkapan), kamus singkatan/akronim, kamus etimologi (penjelasan berupa asal-usul kata dan perkembangannya), dan kamus istilah (memuat istilah dalam bidang tertentu).

Penyusunan sebuah kamus merupakan proses yang panjang. Setiap tahap dalam proses ini merupakan kumulasi dari penelitian dan analisis serta kegunaan praktis kamus dari hasil proses sebelumnya. Setiap penerbitan kamus diarahkan pada kecermatan pencatatan bahasa dan kesempurnaan setinggi-tingginya. Akan tetapi, setiap penerbitan tidak dapat dilepaskan dari ”ideologi bahasa” dan tiap editor menyesuaikan terbitannya sesuai dengan selera publik (Departemen Pendidikan Nasional, 2008: xxv).

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, penyusunan kamus tidak dapat terlepas dari ideologi yang melatarbelakangi penyusunan kamus. Bapak Leksikografi Inggris, Samuel Johnson, penyusun kamus Dictionary of the English Language (1755) mengatakan bahwa kamus berfungsi menjaga kemurnian bahasa. Konsep inilah yang kemudian memunculkan kamus preskripitif, yaitu kamus yang menunjukkan benar dan salah. Konsep ini dikembangkan oleh Noah Webster, Bapak Leksikografi Amerika, penyusun kamus An American Dictionary of English Language (1828). Konsep ini bertentangan dengan konsep yang melandasi penyusunan kamus-kamus modern, seperti A New English Dictionary on Historical Principles (1934) atau Kamus Oxford, dan Webster’s Third New International Dictionary (1961) yang merekam kosakata secara cermat tanpa mendikte yang benar dan yang salah (Chaer, 2007: 190—191).

Selain kamus, ada dua jenis referensi lain, yaitu ensiklopedia dan tesaurus. Ensiklopedia memberikan uraian yang terperinci tentang berbagai cabang ilmu atau bidang ilmu tertentu dalam artikel-artikel yang terpisah sesuai dengan pengelompokan kategori. Tesaurus merupakan sarana untuk mengalihkan gagasan ke kata atau sebaliknya. Tesaurus bukan menerangkan makna kata atau menjelaskan tentang acuan kata, tetapi berisi kata-kata sebagai superordinat (hipernimi) dengan sejumlah kata-kata yang termasuk dalam superordinat, sebagai bagian dari satu sistem budaya.


III. Tradisi Perkamusan di Indonesia

Keadaan dunia perkamusan di Indonesia tidak sama dengan yang terjadi di negara-negara maju di dunia. Sejarah leksikografi di Indonesia dimulai dengan adanya catatan kosakata yang kurang lebih berjumlah 500 buah lema, Daftar Kata Cina Melayu, yang ditulis pada awal abad ke-15. Selanjutnya, pada tahun 1522, seorang pakar bahasa yang mengikuti pelayaran Magelheans mengelilingi dunia bernama Pigafetta menulis Daftar Kata Italia Melayu.

Kamus tertua dalam sejarah leksikografi Indonesia adalah Spraek ende woor-boek, Inde Malayshe ende Madagaskarche Taen Met Vele Arabische ende Tursche Woorden (1603) karangan Frederick de Houtman dan Vocabularium offe Woortboek naerorder vanden Alphabet in’t Duystch-Maleys Duytch (1623) karangan Casper Wiltens dan Sebastian Danckaerts. Kedua kamus Melayu tersebut jelas lebih tua daripada Lexicon Javanum (1706) yang disimpan di perpustakaan Vatikan dan dianggap sebagai kamus Jawa tertua dan lebih tua daripada kamus Sunda tertua, Nederduitsch-Maleisch en Soendasch Woordenboek (1841) yang ditulis oleh A. de Wilde. Selanjutnya, ada pula kamus bahasa asing-bahasa Melayu karya R. O. Winstedt, An Unbridged Malay-English Dictionary (cetakan ke-3, 1960) dan A Malay-English Dictionary karya R. J. Wilkinson (part I, 1901). Selain itu, disusun pula kamus yang berjudul A Dictionary of the Malayan Language yang disusun oleh William Marsden. Kamus ini disusun dalam dua bagian, yaitu Melayu-Inggris dan Inggris-Melayu.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa perkamusan di Indonesia dimulai dari kamus-kamus dwibahasa, berbeda dengan di Eropa dan Amerika yang dimulai dari kamus-kamus ekabahasa. Pada zaman kolonial, kamus dwibahasa yang disusun pada umumnya, yakni bahasa asing-bahasa Nusantara atau sebaliknya, bahasa Nusantara-bahasa asing. Bahasa Nusantara tersebut seperti bahasa Jawa, Sunda, Melayu, dan Bali. Hanya terdapat satu kamus dwibahasa Nusantara, yaitu kamus yang pertama kali dibuat oleh orang Indonesia, yakni Baoesastra Melajoe-Djawa (1916) karangan R. Sastrasoeganda.

Kamus ekabahasa yang pertama dibuat oleh orang Indonesia adalah Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamoes Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga Penggal yang Pertama yang disusun oleh Raja Ali Haji dari Riau. Selain itu, dalam bahasa Jawa terdapat Baoesastra Djawa (1930) yang disusun oleh W.J.S Poerwadarminta, C.S. Hardjasoedarma, dan J.C. Poedjasoedira. Dalam bahasa Sunda terdapat Kamoes Bahasa Soenda (1948) yang disusun oleh R. Satjadibrata. Kedua kamus bahasa daerah ini dianggap sebagai pelopor kamus ekabahasa di kedua bahasa tersebut.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945 dan dengan adanya semangat Sumpah Pemuda 1928, serta dijadikannya bahasa Indonesia dalam UUD 1945 sebagai bahasa negara, usaha-usaha untuk memantapkan dan menyebarluaskan bahasa Melayu-Indonesia semakin marak. Ketika itu, banyak diterbitkan baik kamus ekabahasa bahasa Indonesia maupun buku kamus istilah. Selain itu, juga terbit kamus bahasa daerah-bahasa Indonesia atau kamus bahasa Indonesia-bahasa daerah. Kamus-kamus yang pernah ada hingga tahun 1976 dapat dilihat dalam buku Bibliografi Perkamusan Indonesia yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa tahun 1976.

Perkamusan di Indonesia dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu perkamusan Indonesia sebagai hasil kerja pribadi, perkamusan Indonesia yang dilaksanakan di luar negeri, dan perkamusan oleh Pusat Bahasa. Perkamusan Indonesia sebagai hasil kerja pribadi mempunyai arti penting dalam perkembangan dan pengembangan bahasa Indonesia, baik dalam format kecil maupun besar. Kamus berformat besar di antaranya Kamus Indonesia, E. St. Harahap (cetakan ke-9, 1951), Kamus Bahasa Indonesia, Hasan Noel Arifin (1951), Kamus Modern Bahasa Indonesia, St. Moh. Zain, dan Kamus Umum Bahasa Indonesia, W. J. S. Poerwadarminta.

Adapun kamus yang berformat kecil yang disusun dengan tujuan terbatas, antara lain Logat Kecil Bahasa Indonesia oleh W. J. S. Poerwadarminta (1949), Kamus Bahasaku oleh B. M. Nur (1954), Kamus Saku Bahasa Indonesia oleh Reksosiswojo, dkk. (1969), Kamus Bahasa Indonesia untuk Remaja oleh Ali Marsaban, dkk. (1974), Kamus Sinonim Bahasa Indonesia oleh Harimurti Kridalaksana (1974), Kamus Idiom Bahasa Indonesia oleh Abdul Chaer (1982), dan Kamus Ungkapan Bahasa Indonesia oleh Abdul Chaer (1997). Muncul pula kamus-kamus bahasa daerah dengan penjelasan bahasa Indonesia, seperti Kamus Dialek Jakarta oleh Abdul Chaer (1976), Kamus Jawa Kuno-Bahasa Indonesia oleh L. Mardiwasito (1978), Kamus Bahasa Bali oleh Sri Reski Anandakusuma (1986), dan Kamus Bahasa Malaysia-Indonesia oleh Abdul Chaer (2004).

Dengan maraknya penelitian bahasa Indonesia di luar negeri, muncullah kamus-kamus bahasa Indonesia-bahasa asing atau sebaliknya, bahasa asing bahasa Indonesia. Kamus-kamus tersebut misalnya Dictionaire Indonesien-Franḉais (1984) karangan P. Labrouse yang terbit di Perancis, An Indonesian-English Dictionary (1963) dan An English Indonesian-Dictionary (1975) karangan John M. Echols dan Hassan Shadily yang terbit di Amerika, Comtempporary Indonesian-English Dictionary (1981) karangan A. Edi Schmidgall Tellings dan Alan M. Stevens, Kamus Baru Bahasa Indonesia-Tionghoa (1989) karangan Liang Liji yang terbit di Republik Rakyat Cina, Kamus Besar Bahasa Indonesia-Rusia (1990) karangan R.N. Rorigidskiy yang terbit di Rusia, serta Indonesiech-Nederlands Woordenboek karangan A. Teeuw yang terbit di Belanda. Selain itu, terbit pula kamus bahasa Melayu di Malaysia yaitu Kamus Dewan (1970) karya Teuku Iskandar dan Kamus Lengkap (1977) karya Awang Sudjai Hairul.

Selain kamus-kamus di atas, muncul pula kamus-kamus bahasa daerah. Kamus-kamus bahasa daerah yang muncul di Indonesia juga ikut mewarnai perkembangan sejarah perkamusan di Indonesia. Kamus-kamus yang bahasa daerah yang muncul di antaranya dalam bahasa Aceh, Gayo, Batak, Minangkabau, Rejang, Nias, Madura, Sunda, dan Jawa.

Kamus bahasa Aceh yang terbit pada masa-masa awal perkembangan leksikografi di Indonesia adalah Woordenboek der Atjehsche taal (1889) karangan Van Langen, Atjehsch-Nederlandsch Woordenboek (1934) karangan Hoesein Djajadiningrat, Kamus Aceh Ringkas Atjehsch Handwoordenboek (1931) karangan Kreemer, Nederlandsch-Atjehsche Woordenlijst (1906) karangan Veltman, dan sebagainya.

Kamus dalam bahasa Gayo dirintis oleh Snouck Hurgronje. Berdasarkan catatan tersebut disusunlah kamus Gayo yang dikembangkan oleh Njaq Poeteh dan Aman Ratoes serta dibantu oleh dua orang Gayo. Hasil penelitian dan kerja mereka tersebut menghasilkan Gajosch-Nederlandsch Woordenboek met Nederlansch-Gajosch Register (1907).

Kamus dalam bahasa Batak diawali oleh H.N. van der Tuuk. Kamus yang disusun adalah kamus bahasa Batak Toba, Batak Dairi, Batak Angkola, dan Batak Mandailing. Van der Tuuk menyusun kamus berjudul Bataksch-Nederduitsch Woordenboek (1861). Kamus bahasa Batak yang lainnya adalah kamus yang disusun oleh J. Warneck dan berjudul Tobabataksch-Deutsch Worterbuch (1906). M. Joustra juga menulis kamus bahasa batak dengan ditulis dengan abjad Romawi yang berjudul Batak Karo-Nederlandsch Woordenboek (1907) yang kemudian direvisi oleh J.H. Neumann pada tahun 1951.

Kamus bahasa Melayu dan Minangkabau disusun oleh Van der Toorn dengan judul Minangkabau-Maleisch-Nederlandsch Woordenboek (1891) yang penyusunannya berdasarkan abjad Melayu-Arab serta menggunakan tulisan Arab dan Romawi. Kamus bahasa Rejang, menurut catatan Marsden yaitu glosarium yang disusun oleh Hasselt (1881) dan daftar kata Maleisch-Redjangsch Woordenlijst (1926) yang disusun oleh Wink.

Kamus bahasa Nias adalah kamus Jerman-Nias Deutsch-Niassisches Worterbuch (1892) dan kamus Nias-Jerman Niassisch-Deutsches Worterbuch (1905) yang disusun oleh Sundermann. Selain itu, ada juga kamus Nias-Melayu-Belanda, Niasch-Maleisch-Nederlansch Woordenboek (1887) yang disusun oleh Thomas dan Teylor Weber.

Kamus bahasa Madura diawali dengan kamus yang disusun oleh Kiliaan yang berjudul Nederlansch-Madoereesch Woordenboek (1898). Kemudian, Penniga dan Hendriks menyusun kamus Madura-Belanda, Practisch Madurees-Nederlandsch Woordenboek (1913). Kamus bahasa Sunda diawali dengan penerbitan kamus yang disusun oleh Jonathan Rigg pada tahun 1862. Pada tahun 1887 Oosting menerbitkan kamus Belanda-Sunda, Nederduitsch-Soendasch Woordenboek. Greedink dan Coolsma melanjutkan perkamusan bahasa Sunda. Greedink menerbitkan kamus yang terdiri atas 400 halaman dan Coolsma yang didukung oleh Van der Tuuk pada tahun 1944.

Kamus bahasa Jawa tertua adalah Lexicon Javanum (1706) yang tidak diketahui penyusunnya. Selain itu, ada pula Kamus Jawa yang disusun oleh Roorda, Kamus Kawi-Jawa yang disusun oleh Winter dan diterbitkan oleh Van der Tuuk, Kamus Kawi-Bali-Belanda yang disusun oleh Van der Tuuk dan diterbitkan oleh Brander dan Rinkes pada tahun 1912.

Selain kamus-kamus dalam bahasa daerah seperti yang telah dipaparkan di atas, terdapat pula kamus-kamus yang merupakan buku-buku referensi mengenai berbagai macam bidang kehidupan dan ilmu pengetahuan yang disusun secara alfabetis. Semakin berkembangnya kehidupan dan ilmu pengetahuan, kamus semacam ini juga semakin banyak beredar di masyarakat. Kamus-kamus seperti ini misalnya Kamus Istilah Kimia dan Farmasi (1976) oleh ITB, Kamus Istilah Ilmu dan Teknologi (1976) oleh H. Johannes, Kamus Ungkapan Bahasa Indonesia (1976) oleh J.S. Badudu, Kamus Linguistik Indonesia (1982) oleh Harimurti Kridalaksana, Kamus Peribahasa (1987) oleh Sarwono Pusposaputro, Kamus Singkatan dan Akronim Baru dan Lama (1991) oleh Ateng Winarno, Kamus Biologi (1999) oleh Mien A. Rifai, Kamus Kimia (1999) oleh Hadyana Pudjaatmaka, Kamus Fisika (2000) oleh Liek Wilardjo, dan sebagainya.


IV. Peran Pemerintah dalam Perkembangan Perkamusan Indonesia

Perkembangan perkamusan di Indonesia tidak pernah dapat dilepaskan dari peran dan tanggung jawab sebuah lembaga pemerintah yang mengurusi masalah kebahasaan, yaitu Pusat Bahasa Republik Indonesia yang pada awalnya merupakan lembaga bahasa di Universiteit van Indonesia. Ketika masih bernama Lembaga Penyelidikan Bahasa dan Kebudayaan Universitas Indonesia, Pusat Bahasa berhasil menerbitkan Kamus Umum Bahasa Indonesia (1953) karangan W. J. S. Poerwadarminta. Kamus ini dianggap sebagai tonggak pertumbuhan leksikografi Indonesia. Pada tahun 1966, kamus ini mengalami cetak ulang yang ke-4, dan tahun 1976 mengalami cetak ulang yang ke-5 dengan ejaan yang telah disesuaikan dengan EYD. Cetakan ke-5 ini disusun dan disesuaikan ejaannya oleh Bidang Perkamusan Pusat Bahasa Republik Indonesia yang terdiri dari Harimurti Kridalaksana (konsultan), Sri Timur Suratman (koordinator), Sri Sukesi Adiwimarta (koordinator) serta beberapa anggota. Selain itu, pada edisi kelima, kamus ini juga mengalami penambahan 1.000 kosakata. Pengolahan edisi ini dilakukan sejak tahun 1972 sampai tahun 1974. Hingga tahun 1987, kamus ini telah dicetak ulang sebanyak sepuluh kali.

Pada tahun 1974 Pusat Bahasa—ketika itu bernama Lembaga Bahasa Nasional—menyelenggarakan penataran leksikografi dalam rangka meningkatkan mutu leksikograf Indonesia. Penataran ini diisi oleh beberapa pengajar leksikografi dari luar dan dalam negeri. Pengajar utama dalam penataran ini adalah Prof. Dr. A. Teeuw (Belanda), Prof. Dr. Baker (Amerika), dan Dr. Jack Prentice (Inggris). Peserta penataran ini adalah perwakilan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan tentu saja staf Pusat Bahasa. Kegiatan ini telah menghasilkan puluhan tenaga perkamusan yang kemudian menghasilkan kamus-kamus bahasa daerah di Indonesia.

Pada tahun 1985 Pusat Bahasa kembali mengadakan penataran leksikografi yang pesertanya juga merupakan perwakilan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, staf Balai Bahasa dari berbagai daerah di Indonesia, dan staf Pusat Bahasa. Penataran ini dimaksukan untuk lebih meningkatkan penyusunan kamus bahasa daerah-bahasa Indonesia sehingga bahasa Indonesia lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia.

Setelah menerbitkan Kamus Umum Bahasa Indonesia (1953) karangan W. J. S. Poerwadarminta, Pusat Bahasa kembali menerbitkan apa yang disebut kamus ”generasi baru” yaitu Kamus Bahasa Indonesia. Kamus ini tidak beredar bebas, tetapi hanya pada kalangan tertentu saja. Kamus ini dimaksudkan agar menjadi kamus besar dan kamus baku. Akan tetapi, melihat jumlah lema dan informasi yang disajikan di dalamnya, kamus ini belum layak disebut sebagai kamus besar. Oleh karena itu, Pusat Bahasa membentuk sebuah tim yang bertugas menyusun sebuah kamus besar. Tim ini dipimpin oleh Anton M. Moeliono yang bertindak sebagai penyunting penyelia. Kamus yang diberi nama Kamus Besar Bahasa Indonesia ini diterbitkan pada saat Konggres Bahasa Indonesia V pada tanggal 28 Oktober 1988. Edisi pertama ini memuat kurang lebih sebanyak 62.000 buah lema.

Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi pertama ini dicetak ulang sekaligus mengalami revisi sebanyak empat kali, yaitu berturut-turut pada tahun 1988, 1989, 1990, dan 1990. Mengingat banyaknya saran dan kritik dari berbagai pihak, disusun dan direvisilah edisi pertama ini sehingga terbit Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua pada tahun 1991 yang disusun di bawah pimpinan Hasan Alwi. Jumlah lema yang ada dalam edisi ini kurang lebih 72.000. Edisi kedua ini juga mengalami cetak ulang dan tentu saja revisi sebanyak sepuluh kali, yaitu pada tahu 1991, 1992, 1994, 1995, 1995, 1996, 1996, 1996, 1997, dan 1999. Edisi kedua ini juga mengalami perbaikan pula sehingga terbitlah Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga pada tahun 2001 yang disusun di bawah pimpinan Dendy Sugono. Jumlah lema yang ada dalam edisi ini kurang lebih 78.000 dan 2.034 peribahasa. Edisi ketiga ini mengalami cetak ulang dan revisi sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun 2001, 2002, dan 2005.

Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa Indonesia tahun 2008, Pusat Bahasa kembali menerbitkan Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi terbaru, yaitu edisi keempat pada bulan Oktober 2008. Edisi keempat ini tentu saja mengalami peningkatan jumlah lema. Lema yang ada di edisi keempat ini sebanyak 90.049 lema yang terdiri dari 41.250 buah lema pokok dan 48.799 buah sublema. Selain itu, peribahasa dalam edisi ini juga bertambah dua buah menjadi 2.036 buah peribahasa.

Edisi keempat ini tidak hanya mengalami perkembangan jumlah lema dan sublema, tetapi juga mengalami perbaikan definisi atau penjelasan lema dan sublemanya. Perbaikan tersebut meliputi penambahan makna—akibat perkembangan pemakaian bahasa—, perbaikan untuk penulisan nama latin hewan dan tumbuhan, perubahan urutan sublema, dan perbaikan isi lampiran. Pengurutan sublema yang merupakan bentuk derivasi dari lema pokok tidak lagi didasarkan pada urutan alfabetis, tetapi didasarkan pada paradigma pembentukan kata. Adapun proses pendefinisian dilakukan dengan cara mengelompokkan lema berdasarkan kategori yang sama kemudian digabungkan lagi setelah diperbaiki dan diurutkan kembali secara alfabetis. Perbaikan-perbaikan ini dilakukan berdasarkan saran dan kritik dari masyarakat yang disampaikan kepada Pusat Bahasa.

Cara penulisan bentuk derivasi dalam KUBI, KBBI edisi pertama dan edisi ketiga sama, yaitu menggunakan kriteria verba dulu, baru nomina. Pengurutan verbanya adalah mengguakan urutan yang diawali dengan ber-, lalu meng-, ter-, dan memper-. Setelah itu baru disusul bentuk derivasi nomina dan yang berimbuhan ke- atau –an yang dapat berupa verba maupun nomina. Adapun dalam KBBI edisi keempat urutan yang digunakan dalam penyusunan lema tidak konsisten. Paradigma yang digunakan bermacam-macam, seperti urutan meng-, ter-, ber-; meng-, peng-, -an; ter-, ber-, ke-/-an; meng-, ter-, ber-, memper-; meng-, ter-, ber-, memper-, ke-/-an; dan sebagainya.

Dalam tradisi leksikografi, sebuah kamus setidaknya direvisi dalam waktu lima tahun sekali karena tidak ada satu pun kamus yang benar-benar lengkap. Oleh karena itu, sebuah kamus yang hidup adalah kamus yang terus mengikuti perkembangan zaman (Qodratillah, 2009: 2). Bahkan sering kali, sebelum kamus keluar dari percetakan pun, kamus tersebut sudah tertinggal dari perkembangan sebuah bahasa.


V. Tokoh Perkamusan Indonesia

Sejarah perkamusan di Indonesia tentu saja tidak dapat dilepaskan begitu saja dari peran tokoh-tokoh perkamusan di Indonesia. Banyak sekali tokoh yang memiliki peran penting dalam perkembangan perkamusan di Indonesia. Akan tetapi, dalam tulisan ini hanya akan sedikit dijelaskan beberapa tokoh perkamusan Indonesia serta perannnya dalam pengembangan dunia perkamusan di Indonesia.

a. Raja Ali Haji

Raja Ali Haji merupakan tokoh penting di dunia Melayu. Pengaruh pemikirannya terhadap perkembangan dunia Melayu sangat terlihat melalui berbagai karya sastra dan lain-lain yang dijadikan rujukan dalam tradisi penulisan klasik maupun modern. Ia juga dikenal sebagai ulama yang banyak berpengaruh terhadap wacana dan tradisi pemikiran di dunia Melayu.

Kamus yang disusun oleh Raja Ali Haji yang berjudul, Kamoes Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga Penggal yang Pertama merupakan kamus ekabahasa yang pertama yang disusun oleh orang Indonesia. Pada masa-masa itu, kamus yang terbit kebanyakan adalah kamus dwibahasa dan disusun oleh orang-orang asing. Oleh karena itu, Raja Ali Haji dianggap sebagai orang Indonesia pertama yang menyusun kamus ekabahasa dalam bahasa Indonesia.


b. W.J.S. Poerwadarminta

Wilfridus Joseph Sabarija Poerwadarminta (1904–1968) adalah seorang leksikograf atau penyusun kamus ternama dari Indonesia. Dia mendapat julukan sebagai Bapak Perkamusan Indonesia. Karyanya terutama mencakup kamus bahasa Jawa, bahasa Indonesia, bahasa Jepang, dan bahasa Latin. Dia tidak pernah belajar secara formal tentang kajian leksikografi. Akan tetapi, ia terlatih dengan sendirinya bagaimana menyusun kamus. Kamus Umum Bahasa Indonesia dianggap sebagai tonggak sejarah perkamusan di Indonesia. Kamus bersifat sederhana dan praktis serta merupakan kamus deskriptif yang lema dan penjelasannya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pada zamannya, KUBI merupakan kamus yang paling lengkap dengan jumlah entri sebanyak kurang lebih 27.000 buah.

Poerwadarminta layak disebut sebagai peletak dasar leksikografi di Indonesia karena ketelitiannya dalam menyusun kamus. Setiap kata yang ia temukan, baik dari khazanah kontemporer maupun lama, dicatat dalam kartu disertai keterangan mengenai sumber, batas-batas arti, serta bagaimana penggunaannya. Semua bahan serta teks-teks yang telah diambil kata-katanya disimpan baik-baik. Langkah selanjutnya adalah merumuskan makna sebuah kata dan menentukan pilihan di antara sekian varian bentuk kata. Tanpa rasa segan dan malu-malu, ia bertukar pikiran dengan orang yang ia pandang lebih ahli, seperti Poerbatjaraka, C. Hooykaas, atau A. Teeuw. Akan tetapi, ketika sampai pada keharusan menetapkan pilihan, ia mengedepankan otoritasnya sambil tetap berpegang pada prinsip-prinsip ilmu bahasa.


c. St. E. Harahap

Jasa Sutan Harahap dalam bidang bahasa cukup banyak dan dapat dikatakan mempelopori. Pada tahun 1914 bersama dengan D. Iken, Sutan Harahap membuat sejenis glosari yang berjudul Kitab Arti Logat Melajoe jilid pertama. Jilid kedua terbit pada tahun 1917. Kemudian kedua jilid tersebut kembali diterbitkan pada tahun 1923. Dalam kurun waktu 70 hari, dia berhasil menyusun sebuah kamus yang merupakan revisi dari Kitab Arti Logat Melajoe yang diubah namanya menjadi Kamus Indonēsia Ketjik.


d. Anton Moedardo Moeliono

Meskipun tidak secara pribadi menyusun sebuah kamus, Anton M. Moeliono adalah seorang tokoh yang cukup berperan dalam perkembangan perkamusan di Indonesia khususnya pascakemerdekaan RI. Dia adalah kepala dari proyek penyusunan Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi pertama yang berperan sebagai penyunting penyelia. Dia telah memberikan sumbangan yang besar bagi perkembangan bahasa Indonesia, terutama ketika menjabat sebagai Kepala Pusat Bahasa pada tahun 1984—1989. Dia bekerja di Pusat Bahasa sejak tahun 1960 dan menjabat antara lain sebagai Kepala Bidang Perkamusan, Ketua Komisi Istilah Seksi Linguistik, dan Wakil Ketua Komisi Istilah. Pada saat itu, dalam bidang perkamusan dan peristilahan, dia banyak berguru kepada Poerwadarminta yang ketika itu sedang menyusun kamus. Dalam penyusunan KBBI edisi keempat, dia juga ikut berperan sebagai penyumbang data.


VI. Kesimpulan

Kamus merupakan buku atau sumber acuan yang memuat kata atau ungkapan yang biasanya disusun secara alfabetis dengan keterangan tentang makna, pemakaian, atau terjemahannya. Idealnya, sebuah kamus memuat perbendaharaan kata yang tidak terbatas jumlahnya. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa sejarah perkamusan di Indonesia dimulai dengan daftas kata Cina-Melayu pada awal abad XV dan daftar kata Italia-Melayu yang disusun oleh Pigafetta.

Kamus tertua dalam sejarah leksikografi Indonesia adalah Spraek ende woor-boek, Inde Malayshe ende Madagaskarche Taen Met Vele Arabische ende Tursche Woorden (1603) karangan Frederick de Houtman dan Vocabularium offe Woortboek naerorder vanden Alphabet in’t Duystch-Maleys Duytch (1623) karangan Casper Wiltens dan Sebastian Danckaerts.

Perkamusan di Indonesia dimulai dari kamus-kamus dwibahasa, berbeda dengan di Eropa dan Amerika yang dimulai dari kamus-kamus ekabahasa. Kamus ekabahasa yang pertama dibuat oleh orang Indonesia adalah Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamoes Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga Penggal yang Pertama yang disusun oleh Raja Ali Haji dari Riau.

Perkamusan di Indonesia dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu perkamusan Indonesia sebagai hasil kerja pribadi, perkamusan Indonesia yang dilaksanakan di luar negeri, dan perkamusan oleh Pusat Bahasa. Selain itu, muncul pula kamus-kamus bahasa daerah, seperti kamus bahasa Aceh, Gayo, Batak, Minangkabau, Rejang, Nias, Madura, Sunda, dan Jawa.

Perkembangan kamus di Indonesia juga tidak dapat dilepaskan dari peran Pusat Bahasa sebagai lembaga yang mengurusi permasalahan bahasa. Hingga saat ini Pusat Bahasa telah menerbitkan tiga kamus, yaitu Kamus Umum Bahasa Indonesia, Kamus Bahasa Indonesia, dan Kamus Besar Bahasa Indonesia. KBBI telah diterbitkan dalam empat edisi dan 18 kali cetak ulang.

Selain adanya peran dari pemerintah, beberapa tokoh juga ikut berperan dalam sejarah perkembangan perkamusan di Indonesia. Tokoh-tokoh tersebut di antaranya Raja Ali Haji, W.J.S. Poerwadarminta, St. Harahap, Anton M. Moeliono, dan sebagainya. Perkamusan di Indonesia, sebagaimana perkamusan pada umumnya, tidak akan pernah berhenti. Kamus selalu berkembang sesuai dengan perkembangan bahasa tersebut. Oleh karena itu, dalam bahasa Indonesia akan selalu muncul kamus-kamus baru baik kamus besar, kamus istilah, maupun kamus-kamus khusus. Hal ini terjadi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap perkembangan bahasa. Seperti apa yang telah dikatakan oleh Harimurti Kridalaksana, fungsi kamus sebagai dokumentasi bahasa harus disadari sepenuhnya sebagai bangsa Indonesia. Kamus bukan hanya dituntut untuk memuat keterangan bila sebuah lema masuk ke dalam khasanah kata bahasa Indonesia, melainkan juga harus menggambarkan makna lema yang ada secara tuntas, termasuk perkembangannya.


Daftar Pustaka

Chaer, Abdul. 2007. Leksikologi & Leksikografi Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesi:Pusat Bahasa Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Dumaria. 2009. “Manfaat Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam Kehidupan Sehari-Hari,” disampaikan pada acara Bedah Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi IV, Selasa, 24 Februari, di Bentara Budaya Jakarta.
Endarmoko, Eko dan Anton M. Moeliono. 2008. “W. J. S. Poerwadarminta Bapak Kamus Indonesia” dalam Tempo, edisi 13/XXXVII, 19 Mei.

Harahap, E. St. 1951. Kamus Indonesia. Bandung: G. Kolff & Co.

Kridalaksana, Harimurti. 2007. ”Leksikologi dan Leksikografi,” dalam Dasar-Dasar Leksikologi dan Leksokografi: Bahan Pelatihan Penyusunan Kamus Dwibahasa (Indonesia/Melayu—Asing, Indonesia/Melayu—Daerah). Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Permanasari, Indira. 2005. “Mengenang Sosok Poerwadarminta,” dalam Kompas, 28 Oktober.

Poerwadarminta, W.J.S. 1987. Kamus Umum Bahasa Indonesia, edisi kelima. Jakarta: Balai Pustaka.

Purwo, Bambang Kaswanti. 2009. “Bedah KBBI Edisi IV,” disampaikan pada acara Bedah Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi IV, Selasa, 24 Februari, di Bentara Budaya Jakarta.

Qodratillah, Meity Taqdir. 2009. “Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi IV,” disampaikan pada acara Bedah Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi IV, Selasa, 24 Februari, di Bentara Budaya Jakarta.

Smarapradhipa, Galih. 2009. “Membaca Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat,” disampaikan pada acara Bedah Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi IV, Selasa, 24 Februari, di Bentara Budaya Jakarta.

Suratminto, Lilie. dan Munawar Holil (ed.). 2003. Rintisan dalam Kajian Leksikologi dan Leksikografi. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Tim Penyusun. 2007. Dasar-Dasar Leksikologi dan Leksikografi: Bahan Pelatihan Penyusunan Kamus Dwibahasa. Depok : Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Univeersitas Indonesia.

Verhaar, John W.M. 1995. ”Peranan Perkamusan dalam Perkembangan Bahasa dan Sastra,” dalam Lingusitik Indonesia: Masyarakat Linguistik Indonesia, Tahun 13, No. 1 dan 2, Juni dan Desember.

www.lib.fib.ugm.ac.id

www.wikipedia.com